Home / Umum / Gaya Hidup / Seni Budaya / Kampung Jingah Sentra Pembuatan Kain Sasirangan

Kampung Jingah Sentra Pembuatan Kain Sasirangan

Proses pembuatan kain sasirangan

Proses pembuatan kain sasirangan

BANJARMASIN,PASTI@- Siapa yang tak kenal dengan kain Sasirangan, kain khas Kalimantan Selatan ini kepopulerannya bisa disandingkan dengan Batik yang lebih dulu terkenal di Indonesia. Walaupun sama-sama kain lukis, namun Sasirangan memiliki motif dan khas tersendiri. Kain Sasirangan adalah kain yang didapat dari proses pewarnaan rintang dengan menggunakan bahan perintang seperti tali, benang atau sejenisnya menurut corak-corak tertentu.

Salah satu sentra pembuatan Sasirangan yang masih eksis di Banjarmasin terdapat di daerah Sungai Jingah. Kebanyakan usaha pembuatan Sasirangan disitu adalah usaha turun temurun keluarga.

Walaupun dikenal dengan kampung Sasirangan, tetapi tidak mudah menemui orang yang mau membeberkan proses pembuatan kain sasirangan, alasannya karena proses ini dianggap rahasia perusahaan. Untunglah kami bertemu dengan Syaifullah, seorang pengusaha sasirangan yang mau berbagi kisah suksesnya.
Memulai usaha pada awal tahun 2000-an dengan modal dan kemampuan seadanya, tak lantas menciutkan niatnya untuk melestarikan kain khas Banjar ini. Pasang surut pun sempat ia alami dalam usahanya.
Berbeda dengan keadaannya sekarang, usahanya sudah berkembang pesat bahkan mampu membantu mempekerjakan warga sekitar di workshop sasirangan miliknya di daerah Sungai Jingah. Bukan semata-mata untung yang ingin diraihnya, namun usahanya ini digelutinya karena kecintaannya terhadap budaya banjar.
“Saya ingin agar kelak anak cucu kita orang banjar tau bagaimana caranya membuat kain sasirangan, ” ujarnya mantab.
Turis mancanegara pun mengagumi kain yang wajib dipakai PNS di instansi pemerintahan Kalimantan Selatan tiap hari Jumat ini.
Mr. Colin saat mengunjungi sentra pembuatan kain sasirangan di Sungai Jingah, beberapa waktu yang lalu.

Mr. Colin saat mengunjungi sentra pembuatan kain sasirangan di Sungai Jingah, beberapa waktu yang lalu.

Mr. Colin seorang Biker dari negeri Kangguru, Australia yang beberapa waktu lalu singgah di Banjarmasin, mengungkapkan kekagumannya setelah melihat langsung proses pembuatan kain Sasirangan di Sungai Jingah.

“Saya sangat tertarik dengan proses pembuatan Sasirangan dari awal hingga proses pewarnaannya. Namun agak sulit juga mencari tempat pembuatan kain sasirangan ini, ” ujarnya.

“Sasirangan salah satu kain tradisional yang sangat unik, hal ini harus dipertahankan agar tidak hilang dimakan jaman, ” tambahnya.

Menurut mitos di masyarakat Banjar, dulu Sasirangan dipercaya untuk kesembuhan bagi orang yang tertimpa suatu penyakit atau sering di sebut kapidaraan. Kain ini sering di pakai diacara adat suku Banjar. Kain sasirangan ini berbentuk laung (ikat kepala), kekamban (kerudung) dan tapih bumin (kain sarung).
Ada juga yang mengatakan kain sasirangan yang pertama dibuat yaitu tatkala Patih Lambung Mangkurat bertapa selama 40 hari 40 malam di atas rakit balarut banyu. Menjelang akhir tapanya rakit Patih tiba di daerah Rantau kota Bagantung. Dilihatnya seonggok buih dan dari dalam buih terdengan suara seorang wanita, wanita itu adalah Putri Junjung Buih yang kelak menjadi Raja di Banua ini. Tetapi ia baru muncul ke permukaan kalau syarat-syarat yang dimintanya dipenuhi, yaitu sebuah istana Batung yang diselesaikan dalam sehari dan kain dapat selesai sehari yang ditenun dan dicalap atau diwarnai oleh 40 orang putri dengan motif wadi/ adiwaringin. Itulah kain calapan/sasirangan yang pertama kali dibuat. (iwn/wikipedia/pasti)
editor: angga
0 comments
Scroll To Top